Home / Berita / Adab di Atas Ilmu: Kala Kyai Sepuh Membaur di Jajaran Jamaah dan Dijemput Khusus oleh Putra Abah Nas

Adab di Atas Ilmu: Kala Kyai Sepuh Membaur di Jajaran Jamaah dan Dijemput Khusus oleh Putra Abah Nas

BREBES — Ruang visual dalam peringatan haul ulama besar sering kali dipenuhi oleh pemandangan lautan manusia, hiasan panggung yang megah, atau deretan tokoh penting yang duduk di kursi VIP. Namun, pada Haul ke-6 Al Maghfurlah K.H. Moch. Nasrudin (Abah Nas) di Pondok Pesantren Modern Al Falah Jatirokeh, Sabtu (20/06/2026), ribuan jamaah justru disuguhi sebuah “pemandangan mahal” yang tidak ada dalam susunan acara resmi: sebuah pelajaran hidup tentang arti tawadhu dan adab.

Di tengah riuhnya ribuan wali santri dan jamaah yang memadati kompleks pesantren, hadir sosok ulama kharismatik, KH. Labib Shodik Suchemi. Pimpinan Pondok Pesantren Al Hikmah 1 tersebut datang tanpa pengawalan ketat atau permintaan karpet merah. Alih-alih melangkah ke panggung utama tempat para tokoh dan pejabat berkumpul, kyai sepuh ini justru memilih langsung duduk bersila, membaur di antara barisan jamaah umum di bagian bawah.

Bagi KH. Labib Shodik, duduk di antara jamaah mungkin adalah wujud kebersahajaan seorang guru. Namun bagi shohibul bait (Gus Iqbal Tanjung S.Sos., MA), membiarkan seorang guru dan ulama sepuh duduk di barisan luar adalah hal yang pantang dilakukan.

Melihat keberadaan sang kyai di tengah kerumunan massa, dua representasi muda dari trah pengasuh pesantren langsung bergerak cepat. Gus Faesal Khadafi, SE., MBA. (putra kandung almarhum Abah Nas) bersama sepupunya, Gus H. Abdullah Faqih Maskumambang (putra K.H. Mas Mansyur Tarsyudi, kakak kandung almarhum Abah Nas), langsung turun dari panggung kehormatan.

Kedua gus muda ini membelah barisan jamaah, menghampiri KH. Labib Shodik dengan tubuh membungkuk tanda hormat, lalu menjemput dan menuntun sang kyai sepuh untuk ditempatkan di barisan depan panggung utama, bersanding dengan ulama lainnya seperti Abuya Syaikh Soleh Muhammad Basalamah dan Gus Sholahudin Masruri.

“Ini adalah khutbah yang nyata tanpa kata-kata,” bisik salah seorang jamaah yang menyaksikan momen tersebut dengan mata berkaca-kaca. “Kami melihat bagaimana seorang kyai besar begitu rendah hati tidak ingin diistimewakan, dan bagaimana para dzurriyah (keturunan) Abah Nas memperlakukan ulama yang lebih sepuh dengan adab yang luar biasa.”

Peristiwa spontan ini seolah menyempurnakan khidmatnya acara haul siang itu. Di hadapan tokoh-tokoh yang hadir—termasuk Walikota Tegal H. Dedy Yon Supriyono serta tokoh nasional Pri Sulisto dan Suryo Bambang Sulisto—panggung Haul Abah Nas ke-6 tidak hanya menjadi ruang doa, tetapi juga menjelma menjadi madrasah langsung tentang bagaimana indahnya akhlak Islam dipraktikkan di dunia nyata. Momen hangat antar-trah kyai ini menjadi buah bibir yang menyejukkan hati seluruh jamaah yang pulang membawa berkah.

WhatsApp
Facebook
X
Threads
Telegram

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentukan Sekarang Masa Depanmu !

Santri & Alumni

0 K+

View Testimonial

Guru & Asatidz

0 +

Meet Our Teacher