BREBES — Rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Pesantren (MPLP) 2026 di Pondok Pesantren Modern Al Falah Jatirokeh, Songgom, Brebes, terus berlanjut dengan penuh warna. Setelah sebelumnya dibekali materi kesehatan, para santri baru kini diajak untuk mengasah imajinasi melalui agenda Kreasi Santri, yang kemudian disusul dengan pembekalan krusial berupa Edukasi Anti-Bullying (Perundungan).
Kombinasi kedua acara ini dirancang secara apik untuk membangun mental santri yang tidak hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga memiliki empati tinggi serta karakter yang berakhlakul karimah.
Kreasi Seni Gambar Bersama OSMAM: Menguji Imajinasi Lewat Goresan Kertas
Suasana di lokasi kegiatan tampak tenang namun penuh konsentrasi saat agenda Kreasi Santri dimulai. Pada sesi ini, pengurus OSMAM (Organisasi Santri Modern Al Falah Modern) membagikan selembar kertas kepada seluruh santri baru.
Uniknya, di dalam lembar kertas tersebut sudah tertera sebuah ilustrasi gambar mata. Para santri baru kemudian diminta untuk menuangkan ide kreativitas mereka masing-masing, melanjutkan ilustrasi tersebut menjadi sebuah karya seni gambar yang utuh dan bermakna.
Melalui media kertas ini, para santri tampak antusias menorehkan pensil dan warna. Ada yang mengembangkannya menjadi lukisan pemandangan, kaligrafi, hingga gambaran abstrak yang sarat akan makna mendalam. Kegiatan ini sukses menjadi wadah bagi santri baru untuk mengekspresikan diri sekaligus melatih fokus di awal masa nyantri.
Edukasi Anti-Bullying: Mewujudkan Pesantren Ramah Anak
Setelah dikejutkan dengan keseruan membuat karya seni, acara dilanjutkan dengan sesi edukasi yang sangat penting mengenai pencegahan perundungan di lingkungan pesantren. Materi ini disampaikan langsung oleh Roisah Ma’had Ponpes Modern Al Falah Jatirokeh, Ustadzah Nurlaeli Hikmah Wati, S.Sos.
Dalam paparannya, Ustadzah Nurlaeli menekankan bahwa pesantren harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi seluruh santri untuk menuntut ilmu.
“Bullying, baik secara fisik, verbal, maupun di media sosial, tidak memiliki tempat di dalam Islam dan di lingkungan pondok kita. Kita semua adalah saudara (ukhuwah). Tugas kita di sini adalah saling merangkul, saling mendukung, bukan saling menjatuhkan,” tegas Ustadzah Nurlaeli, S.Sos. di hadapan ratusan santri.
Beberapa poin edukasi utama yang disampaikan dalam sesi tersebut meliputi:
- Mengenal Jenis-Jenis Perundungan: Memahamkan santri batas-batas bercanda agar tidak kebablasan menjadi tindakan bullying (seperti mengejek nama orang tua atau mengucilkan teman).
- Dampak Buruk Bullying: Menjelaskan efek domino perundungan yang dapat merusak mental, menurunkan semangat belajar, hingga memicu trauma mendalam pada korban.
- Langkah Preventif & Pelaporan: Mengajarkan santri untuk berani melapor kepada pengurus atau Roisah Ma’had jika melihat atau mengalami tindakan perundungan, guna menciptakan lingkungan yang transparan dan protektif.
Komitmen Bersama
Sesi edukasi ditutup dengan komitmen dan deklarasi bersama dari seluruh santri baru untuk menolak segala bentuk perundungan selama menempuh pendidikan di Ponpes Modern Al Falah Jatirokeh.
Dengan berakhirnya materi ini, para santri diharapkan dapat menjalani kehidupan asrama dengan memegang teguh prinsip saling menghormati, kompak, dan saling menyayangi sesama pejuang ilmu.




















