Membangun Kebiasaan Baik di Bulan Ramadan, Menjaga dan Merawat Setelahnya

Ramadan bulan yang penuh keberkahan telah memasuki 10 hari terakhir. Rasa bahagia karena sebentar lagi bertemu dengan hari raya bercampur rasa sedih karena bulan istimewa ini akan segera berakhir. Bulan yang mulia akan segera meninggalkan kita. Lalu apa yang akan kita raih jika sudah sebulan penuh melaksanakan berbagai ibadah di bulan Ramadan?

Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar di antara bulan-bulan lain, pahala amal ibadah dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni bagi mereka yang bertaubat, segala aktivitas baik bernilai ibadah dan Allah ganjar dengan pahala yang besar. Tidak heran selama bulan Ramadan tidak sedikit dari kita sebagai umat Islam berlomba-lomba untuk meraih kebaikan, mulai dari memperbanyak shalat, dzikir, membaca Al Quran dan shalawat, memperbanyak sedekah dan masih banyak kebaikan lain yang dilakukan selama Ramadan.

Mungkin beberapa dari kita, hal tersebut menjadi kebiasaan baru, namun jika disadari bukan hanya sekadar kebiasaan atau budaya yang ada di masyarakat, lebih dari itu kebaikan yang dilakukan secara konsisten selama satu bulan penuh akan memberikan dampak positif kedepannya, yaitu diharapkan umat Islam akan terus melaksanakan kebaikan-kebaikan tersebut dengan sangat ringan meskipun Ramadan telah berakhir. Ini merupakan salah satu nilai yang dapat diambil dari bulan Ramadan untuk kehidupan selanjutnya yaitu tentang bagaimana istiqomah dalam melakukan kebaikan. Sangat disayangkan jika apa yang telah kita bangun selama bulan Ramadan ditinggalkan begitu saja tanpa membekas sedikitpun dalam diri kita untuk terus melakukan kebaikan sama seperti yang dilakukan pada saat bulan Ramadan. Maka dari itu terus tingkatkan diri kita dalam beribadah serta melaksanakan kebaikan sebelum Ramadan benar-benar meninggalkan kita, selain pahala dan ganjaran yang berlipat ganda, kita juga membangun kebiasaan baik yang mungkin akan lebih sulit dilakukan di luar bulan Ramadan, jika sudah menjadi suatu hal yang menyatu dalam diri kita, selanjutnya tinggal bagaimana kita merawat dan melanjutkan kebaikan tersebut tanpa rasa berat hati.

Facebook
WhatsApp
Telegram
Facebook

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Scroll to Top