Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter, Moral dan Kepribadian Anak

Orang tua memiliki peran yang sangat penting bagi pembentukan karakter, moral dan kepribadian anak. Tidak salah jika orang tua dikatakan sebagai pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya yang berarti orang tua sangat menentukan sikap dan perilaku anak di masa yang akan datang. Oleh karena itu, proses pendidikan yang diberikan orang tua hendaknya dilakukan sejak anak masih kecil seperti yang dijelaskan dalam kitab Akhlaqul Banin dan Akhlaqul banat bahwa pentingnya pendidikan kepada putra-putrinya dilakukan sejak ia masih kecil, karena pendidikan menurut kitab tersebut ibarat menanam pohon, ketika sejak awal dahan pohon tersebut diluruskan, maka ia akan tumbuh dengan lurus, tetapi apabila dahan pohon itu dibiarkan sesuai dengan kehendaknya/bengkok, maka ketika dahan itu sudah besar dan kita akan meluruskannya, dahan itu akan menjadi patah. Artinya adalah bahwa menanam karakter atau pembiasaan karakter yang baik harus dilakukan sejak ia masih kecil. Biasakan anak dengan kebiasaan-kebiasaan baik dan benar sehingga ketika dewasa ia akan berprilaku baik dan benar.

Jangan biarkan anak tumbuh seadanya, meskipun sesuai dengan peraturan yang ada di Indonesia, di usia tertentu anak harus mengikuti kegiatan belajar di lembaga formal yang juga menerapkan pendidikan karakter bagi para siswanya, namun peran orang tua dalam mengasuh anak tetap menjadi yang utama. Karakter kuat akan terbentuk dalam diri anak dari siapa peran yang mendominasi. Jangan sampai di fase pembentukan pondasi karakter anak justru diambil alih oleh orang lain, misalnya dari lingkungan atau teman-teman anak itu sendiri yang mungkin saja justru memberikan pengaruh negatif.

Maka dari itu, sebagai orang tua harus mengenali bagaimana anaknya dan kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan hanya materi tetapi bekal bagi anak untuk menjalankan kehidupan di masa yang akan datang.

Dilansir dari NU Online, dalam Islam sendiri pendidikan anak dibagi menjadi beberapa tahap, pembagian tahapan ini sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang tersirat dalam beberapa hadits Nabi, yaitu tahap awal 0-7 tahun, tahap dua 7-14 tahun dan tahap tiga 14-21 tahun.

Pada tahap pertama, seorang anak akan menghabiskan waktunya untuk bermain. Meskipun demikian, tidak lupa orang tua harus tetap memantau dan menerapkan peraturan pada anak, seperti nabi menyuruh mengajari anak salat pada usia 7 tahun.

Tahap kedua yaitu saat anak berumur 7-14 tahun, jenis pendidikan yang cocok untuk fase ini adalah pengajaran akhlak dan tata krama, bila perlu disertai pemaksaan. Seperti pesan Nabi, jika anak sudah berusia 10 tahun dan tidak shalat maka diperbolehkan untuk dipukul dengan ketentuan tertentu. Dalam usia ini mereka harus mengenal tata krama terhadap sang Khaliq, kepada orang tua dan manusia.

Pada tahap berikutnya, yaitu umur 14-21 tahun, cara mendidik anak yaitu dengan pendekatan dialogis. Dalam fase ini seorang anak diajak dan diajarkan untuk menceritakan tentang masalah yang dihadapinya dan kehadiran orang tua sangat dibutuhkan untuk mendengarkan cerita anak.

Di usia ini, anak-anak lebih butuh perhatian, butuh diakui dan didengarkan pendapatnya. Bila orang tua tidak tanggap maka anak akan lari dan pergi mencari ‘pelampiasan’ kepada sesuatu yang lain untuk mendapatkan perhatian yang tidak dia dapatkan dari orang tuanya. Makin menghawatirkan lagi sebab pada saat usia ini, seorang anak mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis.


Fase-fase di atas sangat penting diketahui oleh orang tua baik laki-laki dan perempuan karena mereka berdua berperan sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Keduanya memegang peranan penting dan strategis dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Selain tahapan atau fase tersebut dalam mendidik anak, tidak kalah penting orang tua juga harus selalu mendoakan dan memberikan contoh atau teladan kepada anak sebagai bekal moral kepribadian mereka.

Facebook
WhatsApp
Telegram
Facebook

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Scroll to Top